Whereabout Dreamer: Dormitory and High-School Years
Hari itu adalah hari Senin. Seperti biasa, kami seasrama bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Saat subuh kami terlebih dahulu sahur dengan makanan yang bisa dibilang kurang menggugah selera, tapi mau bagaimana lagi. Makanan sahur itu akan mengganjal perut kami untuk seharian penuh. Setelah sahur kami duduk di mesjid menunggu waktu azan subuh berkumandang, kemudian shalat subuh lalu melaksanakan kegiatan rutin, yakni amaliyah pagi.
Jika matahari telah terbit atau langit mulai menarik gelapnya. Kami bergegas keluar dari mesjid bersama-sama kembali menuju asrama untuk mandi dan berkemas. Jarak antara masjid dan asrama adalah sekitar 200 meter. Cukup jauh apalagi kalau dibandingkan dengan jarak antara asrama ke sekolah lebih jauh lagi, yakni 500 meter.
Di perjalanan menuju asrama, kami biasanya mengobrol santai tentang malam hari yang asik. Walaupun pada waktu itu kami tidak menggunakan gawai ataupun laptop, tetapi kami masih tetap senang dan menghabiskan malam itu dengan teman kamar atau tetangga kamar.
Kamar mandi di asrama terbilang cukup untuk menampung jumlah penghuni asrama keseluruhan, yakni mencapai 73 orang. Jumlah kamar mandi dan toilet untuk kedua lantai adalah 23 ruang. Masing-masing lantai terdiri dari 8 kamar mandi dan 4 toilet, kecuali toilet bawah, yaitu 3 toilet.
Saat kami tiba di asrama, kami tidak langsung menuju kamar mandi. Kami terkadang lebih mengutamakan tidur pagi untuk menghabiskan waktu dari pukul 05:30 ke pukul 06:00 pagi atau mengumpulkan air di keran jika air pada pagi hari itu tiba-tiba habis, sebab kamar piket pada pagi itu terkadang lalai dalam tugasnya.
Dalam waktu yang singkat itu, kami mandi dengan menunggu warga asrama yang duluan masuk. Jika selesai, salah satu dari kami masuk dan melanjutkan aktifitas pagi hari itu. Terkadang jika keadaan sedang krisis air, kami akan menadah air dengan wadah atau ember di lantai bawah karena dekat dengan keran air, juga air dibawah memiliki sistem saluran air yang berbeda dengan lantai atas. Kemudian membawanya ke lantai atas, sebab lantai bawah sudah dikuasai oleh kelas sepuluh.
Waktu yang diperlukan untuk sampai ke sekolah adalah sepuluh menit karena kami berjalan, jika berlari waktu yang diperlukan adalah lima atau empat menitan. Untuk itu, jika waktu menunjukkan pukul 06:20 pagi. Kami segera turun dan berbaris per kamar karena apel pagi akan dimulai.
Sebuah bel berwarna merah berbunyi dengan nyaring, tidak mungkin warga asrama tidak mendengarnya, tak terkecuali anak itu. Anak yang sering melupakan waktu. Dia tidak memiliki niat untuk berangkat kesekolah, meskipun pengurus asrama dibidang keamanan telah menghukumnya dan memperingatinya. Anak itu tidak jera sama sekali.
Kami semua turun sesuai dengan hitungan dari pengurus asrama dibidang keamanan yang sedang piket. Kami bergegas mengambil sepatu, kemudian duduk di anak tangga lobi asrama. Mengenakan kaos kaki putih dengan sepatu hitam pantovel. Aku berdiri mengenggam dasi abu-abu berlambangkan segi delapan dan dua buah huruf hijaiyah yang ditulis sambung yakni huruf sin dan nun. Menghampiri temanku yang tengah mengobrol dengan seseorang yang terkenal dengan julukan jenius diantara kami. Aku mengadahkan tanganku dan menangkat kerahku, saat ini kami tengah melakukan rutinitas di hari berdasi. Sambil memasang dasi, kami bertiga mengobrol. Meskipun, aku kurang cakap dalam berbicara, tetapi aku berusaha untuk bisa mengikuti alur diskusi.
Hitungan berakhir, kami berpencar meninggalkan obrolan pagi kami menuju barisan kamar. Untuk asrama putra ini, kami dibagi atas beberapa kamar dengan nama seorang cendekiawan yang masyhur, alasannya adalah agar para penghuni kamar itu bisa mewarisi ilmu dengan mudah seperti ulama tersebut.
Beberapa orang masih mengenakan sepatu, meskipun dalam keadaan terburu-buru, orang-orang itu tetap diberi hukuman yakni squat jump sebanyak lima atau sepuluh kali. Bagi mereka yang terlambat keluar sebelum hitungan berakhir, mereka itu akan tertulis dalam sebuah buku catatan pengurus dibidang keamanan dan akan dihukum nantinya, pada yaumul hisab atau hari dihisabnya kesalahan bagi warga asrama yang melanggar atau lalai.
Ada mukadimah oleh pengurus asrama yang piket untuk memimpin apel pada pagi hari itu. Kemudian penyampaian singkat dari pengurus asrama yang lain dan ucapan motivasi dari salah satu warga asrama yang pada hari itu masuk dalam nama-nama pemotivasi. Lalu, kami berdoa dipimpin oleh salah satu warga asrama yang ditunjuk oleh pemimpin apel.
Setelah itu, kami menghadap ke kanan dan sesuai arahan osis yang bertugas, kami berjalan dengan serentak. Sambil menyanyikan salah satu lagu nasional dan marsh Insan Cendekia.
Komentar
Posting Komentar