Postingan

Bukan Lain

 Saya mendengar lagu pop 80 an dari kompilasi di Soundcloud. Di waktu yang sama, saya sedang membaca cerpen di Ruang Sastra — website arsip sastra. Tulisan Ahmadun Yosi Herfanda yang paling awal disitu, Ombak Berdansa Liquisa. Saya sebenarnya hanya ingin mendengar lagu kompilasi, tapi rasanya kurang. Jadilah baca karya sastrawan sekitar 80 an. Tahun yang masih dikekang tangan besi Soeharto itu. Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda berjudul Ombak Berdansa Liquisa juga terpampang jelas ketika pertama mengunjungi laman arsip itu. Ceritanya di Dili, Timor Timur. Tepat di diskotik, seorang perempuan bernama Armila dekat dengan pembelot. Saat itu masih Indonesia. Tapi gejolak separatis menggebu. Armila yang mahasiswa Dili pun juga ikut terlibat. Celandestine. Namun gara-gara Jao Alves sering mengajaknya sebagai kekasih. Tiba-tiba saja diskotik itu kacau, Alves dan beberapa yang lain kabur, sedang Armila berkamuflase dengan orang yang berdansa. Setelah dirasa aman barulah dia duduk. Kemudian Mari...

Bagaimana Rasa

 Seringkali kita mengutarakan sebuah gagasan atau ide bahwa rasa adalah salah satu karunia yang paling terbaik diciptakan oleh Tuhan. Mungkin, suatu ketika, ketika kita sudah diposisi yang telah diimpikan sejak kecil, mungkin saja kita baru mengenal sebuah rasa yang misterius itu. Rasa sakit mungkin, rasa cinta, rasa bahagia, dan rasa-rasa lainnya yang mengubah persepsi kita terhadap situasi dan kondisi saat itu. Kita telah melangkah, terus melangkah hingga ke esok hari. Ada perasaan yang dinanti-nanti. Ada ungkapan yang masih terbesit dihati. Ingat kembali genggaman tangan itu, rasakan sensasinya. Rasa lengkap dan indah saling memahami. Betapa indahnya hari itu, bukan. Sedikit demi sedikit, realita menapar hati. Kenyataan begitu pahit, omongan kekasih melukai hati lebih tajam daripada pisau dapur. Sakit rasanya di benci oleh orang yang kita kasihi, sakit rasanya ditinggal pergi oleh separuh hati. Rasa adalah hati. Kenyataan telah mencampuri hati kita yang penuh akan fantasi. Janga...

Broken Moon

Apartement usang dengan tembok luntur serta pipa besi dan jendela yang karatan. Sepintas seperti tempat pembuangan, tapi sejujurnya ini rumahku. Sudah 5 tahun lamanya aku tinggal disini dengan seekor anjing yang sekarat kelihatannya.  "Aku lelah," gumamku kemudian melompat ke ranjang matras yang kaku. Matras tersebut adalah bekas pos pengungsian yang telah diabaikan, sebab setelah perang berakhir banyak masyarakat meninggal akibat radiasi dari baju anggota militer yang bertugas. Kantukku mulai datang. Iblis yang menari-nari telah lelah dan pergi menuju korrior gelap. Pundakku melemas dan napasku melepas dengan lembut dengan sedikit cemas, sebab hari esok, iblis itu akan datang dan menari-nari untuk mengejek kehidupanku yang sepertinya menyedihkan.

Prepentual Magus

Seperti sihir, benda biru itu mengambang di udara dengan percikan api di antara ekornya. Mataku terpicu setelah orang itu mengatakan kepadaku bahwa ini adalah hologram dari ikan, makhluk yang telah punah berabad-abad lamanya. "Kupikir ini adalah reaksi kimia dan dapat memicu ledakan mega," ujarku dengan senyum remeh. Dia yang duduk diatas meja berdebu tiba-tiba menghampiriku dengan tatapan sinis.  "Kau seharusnya merasakan bagaimana penderitaan pendahulu kita." Tegurnya dengan nada rendah. Aku mengangguk, dia kemudian berpaling dengan senyum. Meninggalkan ruangan yang sepertinya lab untuk setiap percobaannya. Tempat ini kucel dan kusam serta bau tengkik. Oleh sebab itu, aku pergi dari lab sambil menguyah permen pemberian orang itu. Apa yang kau pikirkan setelah melihat benda aneh tadi? Apakah kau kagum? Kau seharusnya begitu. Kagum setelah menemui peninggalan pendahulumu. Korridor bobrok dengan debu berhamburan dimana-mana. Disetiap langkah yang kuambil, selalu saja...

I was here

Dimulai dengan keacuhan. Merasa gagal disetiap detiknya, tetapi ini salah siapa. Pemandangan yang bobrok dari sebuah negara beton. Aku terjebak dibawah reruntuhan yang dahulunya merupakan apartement yang ditinggali oleh beberapa manusia. Setelah benda itu mendarat ditengah-tengah kota. Kami semua hancur.  Aku melihatnya, benda itu bergerak dengan kecepatan tinggi. Mataku mengikuti alur gerakannya dan melesat menuju perempatan kota. Banyak mobil yang sedang berlalu lalang saat itu, Masyarakat yang stabil, anak-anak yang berjalan, menara yang tinggi, dan suara gonggongan anjing menguak diantara riuhnya kota. Setelah benda itu tiba, kota ini menjadi sunyi. Tubuhku remuk, aku tidak merasakan kakiku meski kucoba beberapa kali untuk bergerak. Sesaat kupikir aku mati, tetapi setelah cahaya terang menyorotku, mataku terbelalak dan menyadari kenyataan pahit yang baru saja terjadi. Ini kiamat kataku. Lengan kiriku terjepit, dan kedua kakiku sepertinya telah remuk. Tersisah lengan kanan denga...

Im think or not

Sepertinya aku terjebak. Diriku nerasa kehaluan yang tinggi seperti pemakai natrkotika. Ilusi palsu menghampiriku dan membias keputusanku. Aku menyukainya tetapi membencinya. Dilema, bias, stagnan, dan metafora. Aku dibawah garis elektro. Jari jemariku lemas, dan kepalaku ringan. Mataku buram dengan berat badanku turun secara tiba-tiba.

A Proud Shirt

Ok i admit it. I giving up. But, dont you think i dont do it anymore. I just need a rest, and in fact, i am human as well. So, i am now doing what human usually do. Seems cringe, but that whats i feel after i look myself more often than before and seeing other people do.  Well i have a something to achive from now, and i have no courage to do that. I am weak, cant decide what i must to do. Nobody wants me. I realize people are searching for attention to seek a good place. I blindy think thats not true, but guess what. I was wrong. I feel sleepy and tired after thinking about this life loop.  I haven't decide to suicide because that isnt that good that people expect. Maybe i should take a walk and meet my old friend to prevent this idea.