Bukan Lain
Saya mendengar lagu pop 80 an dari kompilasi di Soundcloud. Di waktu yang sama, saya sedang membaca cerpen di Ruang Sastra — website arsip sastra. Tulisan Ahmadun Yosi Herfanda yang paling awal disitu, Ombak Berdansa Liquisa.
Saya sebenarnya hanya ingin mendengar lagu kompilasi, tapi rasanya kurang. Jadilah baca karya sastrawan sekitar 80 an. Tahun yang masih dikekang tangan besi Soeharto itu. Cerpen Ahmadun Yosi Herfanda berjudul Ombak Berdansa Liquisa juga terpampang jelas ketika pertama mengunjungi laman arsip itu.
Ceritanya di Dili, Timor Timur. Tepat di diskotik, seorang perempuan bernama Armila dekat dengan pembelot. Saat itu masih Indonesia. Tapi gejolak separatis menggebu. Armila yang mahasiswa Dili pun juga ikut terlibat. Celandestine. Namun gara-gara Jao Alves sering mengajaknya sebagai kekasih.
Tiba-tiba saja diskotik itu kacau, Alves dan beberapa yang lain kabur, sedang Armila berkamuflase dengan orang yang berdansa. Setelah dirasa aman barulah dia duduk. Kemudian Mariana, bartender, yang tadi ditunggu akhirnya tiba.
Cerita ini berfokus pada masalah cinta dengan latar politik yang sedang kacau. Tepat saat lagu kompilasi memutar Panbers, Terlambat Sudah, disitu kebenaran terungkap soal Jao. Hubungan gelapnya dengan Mariana, dan wanita malang, Isabela. Lagu yang tepat di momen yang tepat.
Dan akhir dari cerita barulah jelas tahun berapa kejadiannya. 1994 Dili. Sedangkan diterbitkan tahun 2004 di Kompas. Jadi bukan kejadian 80 an, melainkan 90 an.
Komentar
Posting Komentar