Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2022

Kamis

Hari yang paling penat. Ini sebenarnya tidak perlu dibahas, tetapi jika menyangkut dilema. Maka jari-jemariku perlu di kuas. Pagi itu secercah darah kering tumpah ruah ke tanah. Aku menatapnya dengan sayu. Di antara besi dan batu, aku melihat darah lainnya. Tetapi, disitu terpampang aliran darah, bukan lagi sebuah cercah. Aku menabrak dilema. Kisah nabi dan rasul, serta realita liberal dan kapital saling menyudutku. Jodoh dan kewajiban. Juga beberapa ansuran dan musibah. Itu bukan urusan ku tetapi untuk usiaku. Aku harus mengambil resiko untuk menilik dan mencermatinya sampai paham meski belum waktunya. Kepalaku mulai reda. Kantuk akan datang dan pusing akan hilang. Selamat malam untukku yang kesekian kalinya. Jangan lupa kunci pintu dan jagalah diri dari kebodohan dan kemiskinan. Salam dari dirimu di waktu yang berlalu

Realitas

Kembali lagi menulis kata. Merajut kata menjadi pakaian paragraf.  Tangan pertama ada sesuatu yang menarik. Saat itu pikiran masih murni. Sebab itu pertama kali manusia merasakan sesuatu. Sebelum pengalaman itu terjadi. Ada semacam ikatan yang solid dengan kehidupan. Asal manusia bukanlah dari manusia. Melainkan berasal dari suatu tempat yang solid. Tempat itu sangat erat. Warnanya 

Pada Akhirnya...

Konklusi atas segala sesuatu yang telah terjadi selama 12 tahun masa belajar adalah carilah berbagai macam tantangan yang mampu diselesaikan tanpa bantuan orang lain dan bersainglah dengan orang yang mampu menciptakan perubahan. Sebab perubahan itu tidak memiliki perasaan, sehingga jika terjadi sebuah perubahan. Tak ada satu pun yang tahu latar dan makna perubahan itu terjadi. Jadilah hebat, kuat dan percaya diri. Bangunlah landasan yang kokoh.

Menuang Air

Jika terjadi resoluai dominant lakukan resolusi V>I namun gunakan chord Dissonant atau muddy setelahnya. Hindari resolusi V>I IV->I bVII->I atau semacamnya yang menghindari Leading tone Hilangkan Leading tone. Namun, jika narasi menunjukkan resolusi leading maka upayakan menghilangkan 3rd pada Dominant

Seelok Melodi Gerimis

Apakah itu yang dinamakan sebagai tangis dalam kebahagiaan. Ketika penghargaaan telah diraih dengan usaha yang terjal dan curam. Pengakuan dari masyarakat dan seseorang yang kau sayangi. Seperti bunga yang terbang ditiup angin. Sedikit demi sedikit kebanggaan akan pudar terganti oleh hubungan yang mungkin berakhir dengan tragis atau terbekas.

Pekatnya Malam

Kembalilah tidur. Tataplah langit langit itu dan rasakan bagaimana rasanya sendirian di dalam kegelapan. Kau tak perlu tahu siapa yang akan menemanimu didalamnya. Yang harus kau tahu adalah bagaimana proses yang kau jalani di dalam tempat itu. Apa yang kau bawah adalah harga yang dahulu kau berikan kepada sejenismu dan sekarang kau akan melihat balasannya. Tempat itu adalah awal dan bahkan perjalanan kita selanjutnya.

Swarm

Why even you do that? A dirty tought about a sacred thing that shouldn't be that way and you broke the barrier for your nasty lust? I dissapoint with your live as human. You just bunch of meat that walk with no brain. Just like animal but more stupid and naive.

Tali Putih

Bacaan merupakan ikatan batin antara manusia melalui mata hati.

Gerahammu yang koyak

Geram tangan ku ingin memukul ragamu. Beberapa kali kucoba untuk tenang. Namun, selalu saja ketika aku melihat mu berjalan dengan angkuh, inginku hujamkan pukulan terbaikku. Aku melihatmu sebagai delusi yang selalu menyelubung diantara sanubariku. Kedekatanmu adalah palsu. Nyatanya, setiap detik. Ragamu datang, tetapi jiwamu menjauh. Seperti pantulan cahaya dari cermin usang dipekarangan rumah buyutmu.

Tiga Suasana

Mata boneka tua itu menyorot tajam ke kalbuku. Lengannya yang lapuk itu terlihat mencoba memelukku dari jauh. Dia terduduk diatas meja kayu yang letaknya tepat ditengah ruangan kosong ini. Aku mencium aroma berry dan karamel yang harum. Sepertinya dibalik gaun merah mawar itu, asal dari aroma yang harum. Aku berjalan mengarah ke boneka. Tanganku terasa hangat, tetapi sepertinya itu hanya ilusi. Ada sehelai tisu yang melayang. Mataku luluh memandang pesona boneka itu, setelah gaun mawarnya berubah menjadi gaun hitam seperti gadis gothic. Dia berdiri, kemudian berubah menjadi sesosok makhluk yang familiar. Dia berubah menjadi manusia, tetapi sorot matanya yang tajam dan dingin itu tidak lepas dari mataku.

Sekuah Kantuk

Aku bermimpi tentang hari dimana awan mendung berwarna gelap dengan angin kencang yang meniup pepohonan lebat hingga dedaunan berterbangan. Hari itu suasananya agak kalut, tetapi ada sekumpulan remaja yang masih tinggal di sebuah asrama tua. Aku berdiri menghadap ke pintu kamar. Menatap dinding putih yang gelap, sebab awan yang mendung sekarang tengah berjalan menutupi cahaya langit dan meniupkan angin yang kencang, sampai-sampai sebuah suara siulan terdengar. Aku berkemas untuk turun ke lantai bawah. Waktu Ashar sudah masuk setelah azan berkumandang, sekarang aku harus bergegas dan menjemput panggilan shalat. Aku melangkah dan berjalan di sepanjang korridor. Sekumpulan remaja memegang saus tomat yang dibalut dengan tissu wajah. Aku menghiraukannya kemudian turun kebawah, melewati beberapa anak tangga. Sesampainya dibawah, aku melihat empat orang alumni memakai seragam lengkap hari senin. Kupikir mereka masih sekolah disini, tetapi mereka datang hanya untuk menengok situasi dan kondisi...

Whereabout Dreamer: Dormitory and High-School Years

Hari itu adalah hari Senin. Seperti biasa, kami seasrama bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Saat subuh kami terlebih dahulu sahur dengan makanan yang bisa dibilang kurang menggugah selera, tapi mau bagaimana lagi. Makanan sahur itu akan mengganjal perut kami untuk seharian penuh. Setelah sahur kami duduk di mesjid menunggu waktu azan subuh berkumandang, kemudian shalat subuh lalu melaksanakan kegiatan rutin, yakni amaliyah pagi. Jika matahari telah terbit atau langit mulai menarik gelapnya. Kami bergegas keluar dari mesjid bersama-sama kembali menuju asrama untuk mandi dan berkemas. Jarak antara masjid dan asrama adalah sekitar 200 meter. Cukup jauh apalagi kalau dibandingkan dengan jarak antara asrama ke sekolah lebih jauh lagi, yakni 500 meter. Di perjalanan menuju asrama, kami biasanya mengobrol santai tentang malam hari yang asik. Walaupun pada waktu itu kami tidak menggunakan gawai ataupun laptop, tetapi kami masih tetap senang dan menghabiskan malam itu dengan teman kamar a...

Lantai Porselin

 Ada sebuah dorongan yang kuat. Apapun itu, sebuah impresi dari lukisan, kata-kata, ucapan, ataupun sebuah kejadian. Dorongan itu membimbing akal menuju kepada sebuah penalaran yang abstrak. Ada jejak yang harus ditinggalkan, meskipun hanya sebuah lemparan mata ataupun sehelai rerumputan.

Piring Keramik

 Aku takut akan tiba masanya tulisan menjadi buta dan dapat mengkakukan pendapat. Aku juga takut bila nanti, tulisan akan hilang citranya dan tergantikan dengan omongan.

Sepertinya Mendung

Sebuah event besar akan berlangsung, tetapi kau malah terlambat. Mencoba untuk datang, tetapi kau salah alamat. Dirimu tiba dengan harapan dan sampai dengan kekecewaan. Sekarang kau terduduk lemas di antara ayunan, memandang karnaval imitasi yang dibuka di kota sebelah. Kau salah informasi dan tidak yakin terhadap resiko yang akan ditanggung. Sekarang dan kedepannya kau harus lebih yakin dan berani menanggung tanggung jawab demi hasil yang sesuai dengan harapan. Kini kau pasrah, mencoba menghibur diri tapi semuanya telah usai. Event kecil maupun besar, keduanya telah bubar.

Akhir dari Prolog

Rasanya hampa, tubuhku lemas tidak berdaya. Mataku sayu dan bahuku berat. Sepertinya aku butuh istirahat, tetapi mengapa tidak ada yang berbeda sama sekali. Aku termenung, mendengar suara alam. Beberapa kali ayam berkotek, burung berciut saling membalas dan bunyi sebuah kulkas. Aku terbangun dan menyadari sesuatu, bahwa aku membutuhkan seseorang.

Kelemahan Pengetahuan

 Manusia itu wadah yang lemah, interpretasi serta kemampuan menghapalnya dapat merusak pengetahuan. sebab manusia mengalami permasalahan sosial dan kelupaan, sehingga terkadang dalam menyimpan atau menjaga suatu pengetahuan. manusia secara tidak sengaja mengubah pengetahuan atau secara sengaja mengubah dengan tujuan untuk memuaskan kebutuhannya. oleh sebab itu, tulisan adalah bentuk kemurnian dari menjaga pengetahuan. karena tulisan tidak bisa melakukan interpretasi terhadap dirinya sendiri, dan tulisan akan tetap terjaga jika tidak dirusak atau diubah. maka sudah sepatutnya manusia mulai giat membaca dan mengolah informasi dari sebuah bacaan, bukan dari omongan orang lain.

Pentingnya Menjaga

 Tali itu murni, saking murninya, orang-orang berebut memanfaatkan kemurnian itu. mereka menjual dan mendistribusikan tali dengan jumlah yang banyak. hal tersebut tentu sangat baik karena siapapun yang mendapatkan atau pun yang membelinya, mereka semua akan memperoleh manfaatnya. namun, bagaimana jika kemurnian itu sebenarnya diperoleh dari usaha atau upaya yang tinggi? jadi selama ini orang-orang yang bersusah payah menyebarkan dan menceritakan kemurnian itu sekarang hanyalah omong kosong belaka. jadi, untuk itu kita harus berupaya semaksimal mungkin dan tanpa perasaan yang berat hati. kita harus menjemput kemurnian tali itu dengan diri sendiri dan tidak ada tuntunan yang membebani.