Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2022

Broken Moon

Apartement usang dengan tembok luntur serta pipa besi dan jendela yang karatan. Sepintas seperti tempat pembuangan, tapi sejujurnya ini rumahku. Sudah 5 tahun lamanya aku tinggal disini dengan seekor anjing yang sekarat kelihatannya.  "Aku lelah," gumamku kemudian melompat ke ranjang matras yang kaku. Matras tersebut adalah bekas pos pengungsian yang telah diabaikan, sebab setelah perang berakhir banyak masyarakat meninggal akibat radiasi dari baju anggota militer yang bertugas. Kantukku mulai datang. Iblis yang menari-nari telah lelah dan pergi menuju korrior gelap. Pundakku melemas dan napasku melepas dengan lembut dengan sedikit cemas, sebab hari esok, iblis itu akan datang dan menari-nari untuk mengejek kehidupanku yang sepertinya menyedihkan.

Prepentual Magus

Seperti sihir, benda biru itu mengambang di udara dengan percikan api di antara ekornya. Mataku terpicu setelah orang itu mengatakan kepadaku bahwa ini adalah hologram dari ikan, makhluk yang telah punah berabad-abad lamanya. "Kupikir ini adalah reaksi kimia dan dapat memicu ledakan mega," ujarku dengan senyum remeh. Dia yang duduk diatas meja berdebu tiba-tiba menghampiriku dengan tatapan sinis.  "Kau seharusnya merasakan bagaimana penderitaan pendahulu kita." Tegurnya dengan nada rendah. Aku mengangguk, dia kemudian berpaling dengan senyum. Meninggalkan ruangan yang sepertinya lab untuk setiap percobaannya. Tempat ini kucel dan kusam serta bau tengkik. Oleh sebab itu, aku pergi dari lab sambil menguyah permen pemberian orang itu. Apa yang kau pikirkan setelah melihat benda aneh tadi? Apakah kau kagum? Kau seharusnya begitu. Kagum setelah menemui peninggalan pendahulumu. Korridor bobrok dengan debu berhamburan dimana-mana. Disetiap langkah yang kuambil, selalu saja...

I was here

Dimulai dengan keacuhan. Merasa gagal disetiap detiknya, tetapi ini salah siapa. Pemandangan yang bobrok dari sebuah negara beton. Aku terjebak dibawah reruntuhan yang dahulunya merupakan apartement yang ditinggali oleh beberapa manusia. Setelah benda itu mendarat ditengah-tengah kota. Kami semua hancur.  Aku melihatnya, benda itu bergerak dengan kecepatan tinggi. Mataku mengikuti alur gerakannya dan melesat menuju perempatan kota. Banyak mobil yang sedang berlalu lalang saat itu, Masyarakat yang stabil, anak-anak yang berjalan, menara yang tinggi, dan suara gonggongan anjing menguak diantara riuhnya kota. Setelah benda itu tiba, kota ini menjadi sunyi. Tubuhku remuk, aku tidak merasakan kakiku meski kucoba beberapa kali untuk bergerak. Sesaat kupikir aku mati, tetapi setelah cahaya terang menyorotku, mataku terbelalak dan menyadari kenyataan pahit yang baru saja terjadi. Ini kiamat kataku. Lengan kiriku terjepit, dan kedua kakiku sepertinya telah remuk. Tersisah lengan kanan denga...

Im think or not

Sepertinya aku terjebak. Diriku nerasa kehaluan yang tinggi seperti pemakai natrkotika. Ilusi palsu menghampiriku dan membias keputusanku. Aku menyukainya tetapi membencinya. Dilema, bias, stagnan, dan metafora. Aku dibawah garis elektro. Jari jemariku lemas, dan kepalaku ringan. Mataku buram dengan berat badanku turun secara tiba-tiba.