Prepentual Magus
Seperti sihir, benda biru itu mengambang di udara dengan percikan api di antara ekornya. Mataku terpicu setelah orang itu mengatakan kepadaku bahwa ini adalah hologram dari ikan, makhluk yang telah punah berabad-abad lamanya.
"Kupikir ini adalah reaksi kimia dan dapat memicu ledakan mega," ujarku dengan senyum remeh.
Dia yang duduk diatas meja berdebu tiba-tiba menghampiriku dengan tatapan sinis.
"Kau seharusnya merasakan bagaimana penderitaan pendahulu kita." Tegurnya dengan nada rendah.
Aku mengangguk, dia kemudian berpaling dengan senyum. Meninggalkan ruangan yang sepertinya lab untuk setiap percobaannya.
Tempat ini kucel dan kusam serta bau tengkik. Oleh sebab itu, aku pergi dari lab sambil menguyah permen pemberian orang itu.
Apa yang kau pikirkan setelah melihat benda aneh tadi? Apakah kau kagum? Kau seharusnya begitu. Kagum setelah menemui peninggalan pendahulumu.
Korridor bobrok dengan debu berhamburan dimana-mana. Disetiap langkah yang kuambil, selalu saja ada awan kecil mengambang diantara kedua kakiku.
Korridor terakhir sebelum menuju pintu keluar. Terlihat dengan lusuh sesosok anak laki-laki berlumuran darah dengan tubuh yang remuk melayang melewatiku.
Siapa itu?
Aku tidak berani berbalik, dan itu sepertinya tidak sopan, mengingat anak itu telah menderita luka yang cukup parah tentu saja menatapnya terbang menuju meja resepsionis sangat tidak sopan. Kulanjutkan kembali langkah kakiku menuju pintu keluar.
Begitu terbuka, terpaan matahari terik dengan aroma minyak dan partikel kimia tercium disepanjang distrik. Kota tua yang cukup maju menurutku, sebab manusia yang masih tinggal disini masih dapat bersaing dengan kota sebelah dalam bidang industri meskipun kota sebelah terbilang lebih terawat dan modern.
Komentar
Posting Komentar