Sekuah Kantuk
Aku bermimpi tentang hari dimana awan mendung berwarna gelap dengan angin kencang yang meniup pepohonan lebat hingga dedaunan berterbangan. Hari itu suasananya agak kalut, tetapi ada sekumpulan remaja yang masih tinggal di sebuah asrama tua. Aku berdiri menghadap ke pintu kamar. Menatap dinding putih yang gelap, sebab awan yang mendung sekarang tengah berjalan menutupi cahaya langit dan meniupkan angin yang kencang, sampai-sampai sebuah suara siulan terdengar. Aku berkemas untuk turun ke lantai bawah. Waktu Ashar sudah masuk setelah azan berkumandang, sekarang aku harus bergegas dan menjemput panggilan shalat. Aku melangkah dan berjalan di sepanjang korridor. Sekumpulan remaja memegang saus tomat yang dibalut dengan tissu wajah. Aku menghiraukannya kemudian turun kebawah, melewati beberapa anak tangga. Sesampainya dibawah, aku melihat empat orang alumni memakai seragam lengkap hari senin. Kupikir mereka masih sekolah disini, tetapi mereka datang hanya untuk menengok situasi dan kondisi di sekolah ini. Aku menghampiri dan menjabat tangan mereka satu persatu kemudian bergegas pergi. Di pintu keluar, aku dicegat oleh satu orang yang tidak asing, tetapi wajahnya agak silau. Aku menghiraukannya, tapi dia tetap tidak peduli dan mengikutiku. Disaat aku berlari ke arah taman, aku diikuti dan ditanya beberapa pertanyaan sepele seperti "mau kemana?", "Bagaimana kabarmu?", Dll. Sesampainya di bukit yang menjadi jalan menuju mesjid. Aku sepertinya berpindah tempat, ke sebuah lapangan bulu tangkis atau voli yang luasnya cukup kecil. Aku melihat beberapa teman dan alumni tengah melakukan push up. Aku menegok ke alumni yang bersama ku tadi, kemudian aku menyadari sesuatu. Orang yang bersamaku bukan seseorang yang kuduga, melainkan orang lain yang tidak kuduga sama sekali. Pada mimpi itu aku berolahraga dan push up beramai-ramai dengan beberapa teman dan alumni.
Komentar
Posting Komentar