Selepas Sunyi
Di E Flat Minor.
Seorang pianis memainkan nadanya. Jari-Jemarinya yang lembut menyentuh tuts piano. Kedua tangannya merunut kejadian demi kejadian, detik demi detik yang telah berlalu sejak subuh tadi.
Kami berdiri, rukuk, dan sujud. kemudian kembali berdiri hingga rakaat kedua, setelah itu salam dan doa sejenak. merenungkan kesalahan kemudian makan. Aktifitas itu terus-menerus terulang. Hal yang sederhana dan mudah dilupakan, sebab jika sudah usai, semuanya akan sama dan akan terulang.
Namun, ada satu hal yang berbeda. Pada pagi itu, sebuah nada dimainkan dengan anggun. Kami berpapasan dengan senyuman yang ikhlas, satu senyuman dan itu akan berharga bagi kami. Yakni, sebuah perpisahan yang damai, tidak, kami sebenarnya tersenyum untuk melupakan kenangan pahit yang dapat memisahkan kita untuk saat ini.
Sebuah iringan naik dengan tegas, kemudian pelan. Wajah kami terlihat sedih, tetapi dengan hati yang berbahagia. Karena ini adalah hari dimana kami telah bebas, dan lepas dari tanggung jawab yang berat.
Serentak tuts ditekan dengan pelan.
Hening.
Seseorang melambai dengan senyuman dan yang lain tinggal dengan menanggung beban kenangan.
Dia terhenyuk sesaat, menaiki tangga, melepas senyuman dan memandangi koridor yang panjang, senyap merambat di setiap langkahnya. Melepaskan penat dengan napas panjang, kemudian memikirkan hari-hari yang akan datang dengan menanggung beban yang berat dan sendirian.
Dia tidak kuat, kakinya melemah menahan sunyi yang melilit diantara langkahnya.
Menurun kemudian berhenti di B flat. Keheningan merambat di antara audiens, mereka tertunduk dan merenung sejenak. sang pianis menutup mata dan menghayati situasi dengan tenang.
Orang itu sudah tenang, dia tidak ragu lagi. Setelah dia tahu bahwa namanya telah terpaut diantara doa ibunya agar selamat di dunia akhirat dan jauh dari kesendirian. Dia duduk dan melepas pandang ke ufuk barat laut, mengarah kepada rumah yang melewati dua selat, sebuah tempat dimana dia berasal.
Komentar
Posting Komentar