Darah Emas

 Bercucuran darah itu di tanah yang penuh dengan parit dan berlubang. Saat itu para pejuang menangkat bahu mereka seraya berseru untuk tetap tegar. Mereka tidak terbesit sama sekali untuk mundur, meskipun saat ini mereka kalah jumlah. Namun hati mereka tetap tegar menghadapi pasukan-pasukan asing yang menjajah tanah mereka. Peluru melesat dengan cepat, kaki dan mata mereka bergetar dibuatnya. Telinga mereka tuli untuk sementara waktu, sebab peluru dan rekan mereka berteriak-teriak untuk maju dan pantang mundur. Pemandangan saat itu sangat kacau, teman atau rekan mereka berjalan dengan terhuyung-huyung dan mati tertembak tepat dihadapan mereka. Badan itu tersungkur, salah satu rekan kami mendekat dan menarik paksa ke parit. Namun, darah itu menjadi sia-sia setelah rekan kami yang berhasil menarik turun rekan kami yang tewas di hujani dengan peluru. Dia mati dengan dada yang berlubang, tetapi dia setengah sadar dan berpesan kepada kami yang telah menurunkan mereka kedua kedalam parit, "Jaga istri dan juga anakku, aku ingin mereka hidup dengan tenang setelah perjuangan kita ini." Kami pucat, melihat dadanya yang bolong sekarang mengalirkan darah dengan deras. Salah satu dari kami mencoba menahan rasa mual, dan yang lainnya berdoa agar teman kami yang mati di medan peperangan ini agar dimaafkan segala kesalahannya dan dimudahkan rezeki bagi keluarganya. Aku memandang wajah tenang itu, dia sepertinya bahagia, meskipun dadanya telah lubang. Terlintas dipikiranku untuk mati dengan layak seperti rekanku ini. Aku berdiri, mengangkat senjata dan lari meninggalkan parit. Kakiku secara tidak sengaja berlari dan mencoba untuk mencari pasukan bajingan yang merusak negara kami dengan kaki dan tangan kotor mereka. Aku bersembunyi diantara pohon kemudian menyeser salah satu kepala musuh. Tembakan meleset, tetapi sepertinya orang itu terkena serangan mental. Mencoba sekali lagi dan kali ini menyerang secara langsung ke tengah-tengah lapangan. Aku seperti orang gila yang sedang mabuk. Ku seser kepala musuh di parit mereka dengan bayonet-ku, lehernya yang rawan itu ku tebas dan kurenggut tubuhnya untuk kujadikan sebagai perisai daging. Rekan mereka tidak berani menembak, aku kemudian maju dan berteriak dengan lantang, "aku adalah iblis di daratan merah ini!"

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepertinya Mendung

Im think or not

Prepentual Magus