Sebuah event besar akan berlangsung, tetapi kau malah terlambat. Mencoba untuk datang, tetapi kau salah alamat. Dirimu tiba dengan harapan dan sampai dengan kekecewaan. Sekarang kau terduduk lemas di antara ayunan, memandang karnaval imitasi yang dibuka di kota sebelah. Kau salah informasi dan tidak yakin terhadap resiko yang akan ditanggung. Sekarang dan kedepannya kau harus lebih yakin dan berani menanggung tanggung jawab demi hasil yang sesuai dengan harapan. Kini kau pasrah, mencoba menghibur diri tapi semuanya telah usai. Event kecil maupun besar, keduanya telah bubar.
Sepertinya aku terjebak. Diriku nerasa kehaluan yang tinggi seperti pemakai natrkotika. Ilusi palsu menghampiriku dan membias keputusanku. Aku menyukainya tetapi membencinya. Dilema, bias, stagnan, dan metafora. Aku dibawah garis elektro. Jari jemariku lemas, dan kepalaku ringan. Mataku buram dengan berat badanku turun secara tiba-tiba.
Seperti sihir, benda biru itu mengambang di udara dengan percikan api di antara ekornya. Mataku terpicu setelah orang itu mengatakan kepadaku bahwa ini adalah hologram dari ikan, makhluk yang telah punah berabad-abad lamanya. "Kupikir ini adalah reaksi kimia dan dapat memicu ledakan mega," ujarku dengan senyum remeh. Dia yang duduk diatas meja berdebu tiba-tiba menghampiriku dengan tatapan sinis. "Kau seharusnya merasakan bagaimana penderitaan pendahulu kita." Tegurnya dengan nada rendah. Aku mengangguk, dia kemudian berpaling dengan senyum. Meninggalkan ruangan yang sepertinya lab untuk setiap percobaannya. Tempat ini kucel dan kusam serta bau tengkik. Oleh sebab itu, aku pergi dari lab sambil menguyah permen pemberian orang itu. Apa yang kau pikirkan setelah melihat benda aneh tadi? Apakah kau kagum? Kau seharusnya begitu. Kagum setelah menemui peninggalan pendahulumu. Korridor bobrok dengan debu berhamburan dimana-mana. Disetiap langkah yang kuambil, selalu saja...
Komentar
Posting Komentar