Darah Emas
Bercucuran darah itu di tanah yang penuh dengan parit dan berlubang. Saat itu para pejuang menangkat bahu mereka seraya berseru untuk tetap tegar. Mereka tidak terbesit sama sekali untuk mundur, meskipun saat ini mereka kalah jumlah. Namun hati mereka tetap tegar menghadapi pasukan-pasukan asing yang menjajah tanah mereka. Peluru melesat dengan cepat, kaki dan mata mereka bergetar dibuatnya. Telinga mereka tuli untuk sementara waktu, sebab peluru dan rekan mereka berteriak-teriak untuk maju dan pantang mundur. Pemandangan saat itu sangat kacau, teman atau rekan mereka berjalan dengan terhuyung-huyung dan mati tertembak tepat dihadapan mereka. Badan itu tersungkur, salah satu rekan kami mendekat dan menarik paksa ke parit. Namun, darah itu menjadi sia-sia setelah rekan kami yang berhasil menarik turun rekan kami yang tewas di hujani dengan peluru. Dia mati dengan dada yang berlubang, tetapi dia setengah sadar dan berpesan kepada kami yang telah menurunkan mereka kedua kedalam parit...