Cerpen Singkat Berjudul "Sang Pianis"

tuts ditekan dengan pelan, sang pianis memainkan sebuah lagu dari congfei wei yaitu bluestone alley. dimulai dengan irama yang pelan namun menggetarkan. seisi ruangan itu diam terpukau, awalanya mereka menyaksikan raut wajah pianis amat tegang karena gugup untuk menekan, entah dia ragu atau apa. para penonton di ruangan kecil itu yang hanya ada meja makan serta 4 kursi kayu terjejer dengan rapi, para penontonnya hanya teman kerja yang ikut pulang kerumah pianis itu.

malam mendinginkan pintu rumah putih itu, mungkin itu penyebab para penonton sekaligus teman kerja si pianis nampak malas untuk pulang. dan mereka juga memaksa si pianis untuk memainkan piano tua yang tergeletak di ruangmakan, alhasil mereka mendengar sebuah karya yang lembut dan menyentuh dimalam yang dinginnya mengerutkan wajah untuk pulang.

"apakah ini dirimu, Ed. kukira kau cuman penjilat sepatu manajer saja" ujar rekan si pianis itu dengan nada menghina. pianis nampak terusik, tanganya terlihat lebih kaku dari sebelumnya, nada yang indah dengan permulaan yang pelan, akan hancur akibat hati yang sakit. hal itu terbukti dari sikap pianis yang kaku dalam menghadapi tuts putih hitam.

"jangan seperti itu, setidaknya dia berusaha" ucap Herald seorang karyawan yang jabatannya sama dengan si pianis.

ucapannya manis, pianis mulai lunak dalam menekan tuts. ada raut wajah tenang, karena si pengacau tadi yaitu Bean seorang yang lebih tinggi jabatannya dari pianis dan Herald seorang yang amat pengertian terhadap nasib sejabatanya, mulai membela hak dan mereka saling tertawa karena pianis merasa tenang karena adanya orang yang jahat dan baik perangainya sedang duduk di kursi kayu dengan wajah yang akan tertidur akibat mendengar ketukan tuts yang lembut dari kecepatan jari pianis yang semakin tenang dan lunak.

malam sudah mencapai puncak, kedua rekannya tengah tertidur dikursi dengan wajah yang menempel di meja yang tidak ada apa-apa diatasnya, pianis  berhenti dengan wajah yang puas. dia berniat untuk membangunkan, namun dia teringat dengan tujuan rekannya itu. mereka berdua datang dari rumah yang jarakanya harus transit 1 kali ketika naik kereta ke rumah pianis yang cuaca sedang dingin dan turun salju. mereka berusaha memberikan sebuah semangat, karena pianis hendak pergi ke luar negeri, untuk pindah pekerjaan. makanya dia yaitu si pianis, memberikan perpisahan terakhir dengan nada lembut dari bluestone alley. matanya berpaling di jam yang letaknya tepat diatas tv, pukul 12.00 tak terasa dia memainkan 2 jam lagu yang sama dengan nada yang meninggi di setiap waktunya.

pianis kemudian berpaling, meredupkan lampu yang tidak dia gunakan sekarang. lampu yang tersisa hanya disekitar piano yang menyorot setiap tutsnya tanpa celah kecuali tubuhnya yang diterpa dengan terangnya cahaya, dia memainkan sebuah lagu. kali ini aurora karya cong fei juga, namun dengan cara bermain yang tidak biasa, nada serta iramanya lebih bagus daripada lagu sebelumnya, tapi tidak ada orang yang mendengar dan memberi tepukan terhadap lentikan tuts yang ditekannya. dia asyik menikmati malam terakhir, tidak ada yang melihat kecuali dirinya. memang dia sang pianis sejati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepertinya Mendung

Im think or not

Prepentual Magus